<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>RASTO</title>
	<atom:link href="http://rasto.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rasto.wordpress.com</link>
	<description>Program Studi Pendidikan Manajemen Perkantoran Universitas Pendidikan Indoensia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 Feb 2008 08:32:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rasto.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>RASTO</title>
		<link>http://rasto.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rasto.wordpress.com/osd.xml" title="RASTO" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rasto.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Teaching Clinic (Klinik Pembelajaran)</title>
		<link>http://rasto.wordpress.com/2008/02/01/teaching-clinic-klinik-pembelajaran/</link>
		<comments>http://rasto.wordpress.com/2008/02/01/teaching-clinic-klinik-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 04:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rasto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rasto.wordpress.com/2008/02/01/teaching-clinic-klinik-pembelajaran/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Klinik Pembelajaran? Andaryani (2006) dalam situs www.ict4pr.org,  mengemukakan klinik pembelajaran yang dinamakan experiential classroom merupakan tempat yang dapat digunakan untuk mendemonstrasikan, dan memberikan dorongan dan inspirasi melalui peragaan alat pembelajaran yang praktis dan nyata untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran seorang guru secara mandiri (A LLEEP Clinic at Syracuse University, 2003).Lembaga Pengembangan  dan Pendidikan Universitas Sebelas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rasto.wordpress.com&amp;blog=1623932&amp;post=54&amp;subd=rasto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><strong>Apakah Klinik Pembelajaran?</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Andaryani (2006) dalam situs <span class="a"><a href="http://www.ict4pr.org/"><font color="#0000ff">www.ict4pr.org</font></a>,</span>  mengemukakan klinik pembelajaran yang dinamakan experiential classroom merupakan tempat yang dapat digunakan untuk mendemonstrasikan, dan memberikan dorongan dan inspirasi melalui peragaan alat pembelajaran yang praktis dan nyata untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran seorang guru secara mandiri (A LLEEP Clinic at Syracuse University, 2003).</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Lembaga Pengembangan  dan Pendidikan Universitas Sebelas Maret pada situs  <a href="http://lpp.uns.ac.id/"><font color="#0000ff">http://lpp.uns.ac.id</font></a>  mengemukakan klinik pembelajaran merupakan sebuah konsep yang mempunyai  makna yang terkandung dalam “klinik” dan “pembelajaran”, sebuah klinik yang dibangun untuk mendemonstrasikan, memberikan dorongan dan memberikan inspirasi dengan cara-cara inovatif melalui aktifitas nyata untuk meningkatkan kualitas mengajar guru  secara mandiri.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span id="more-54"></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></p>
<p align="justify">Dit. Ketenagaan Ditjen. DIKTI DEPDIKNAS dalam situs <a href="http://klinikpembelajaran.com/"><font color="#0000ff">http://klinikpembelajaran.com</font></a> mengemukakan klinik pembelajaran merupakan wadah bagi guru untuk melakukan serangkaian upaya yaitu kegiatan refleksi, penemuan masalah, pemecahan masalah melalui beragam strategi untuk meningkatkan keterampilan dalam mengelola pembelajaran. Strategi utama yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas.</p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dapat disimpulkan bahwa klinik pembelajaran adalah  pusat atau unit yang berfungsi untuk meningkatkan dan atau memperbaiki kinerja tenaga professional di bidang pendidikan. Klinik pembelajaran dibangun dengan pondasi kemitraan antara berbagai lembaga.  </span></p>
<p></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><strong>Bagaimana tahapan klinik pembelajaran?</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Untuk membangun klinik pembelajaran diperlukan empat tahapan proses seperti tertuang dalam situs <a href="http://lpp.uns.ac.id/"><font color="#0000ff">http://lpp.uns.ac.id</font></a>, yaitu:<br />
1.      Pengembangan klinik pembelajaran<br />
2.      Kegiatan uji coba konsep klinik pembelajaran.<br />
3.      Review dan pemantapan konsep klinik pembelajaran<br />
4.      Sosialisasi klinik pembelajaran </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><strong>Layanan apa yang tersedia di klinik pembelajaran?</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Karena Klinik Pembelajaran merupakan milik bersama para guru, maka tempat ini dapat digunakan dengan bebas untuk berdiskusi, melakukan refleksi atau merenung tentang proses pembelajaran yang telah dijalani, bersimulasi, misalnya bagaimana cara mengajarkan suatu konsep dengan menyenangkan, dan membuat catatan bersama-sama dengan teman sejawat. Di Klinik Pembelajaran, para supervisor akan membantu dalam melakukan berbagai kegiatan tersebut. (<a href="http://klinikpembelajaran.com/"><font color="#0000ff">http://klinikpembelajaran.com</font></a>)</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><strong> </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><strong>Apa manfaat ke klinik pembelajaran?</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Wawasan guru akan lebih terbuka apabila terbiasa melakukan diskusi dengan teman sejawat. Selanjutnya, dengan kasus-kasus pembelajaran yang guru kumpulkan, diskusikan, dan pecahkan bersama pada klinik pembelajaran, akan mengasah kepekaan terhadap permasalahan yang terjadi di kelas, sehingga rasa percaya diri dalam melaksanakan tugas sebagai guru meningkat. Dengan demikian, diharapkan kualitas proses pembelajaran akan lebih meningkat yang tentunya membawa dampak kepada kualitas siswa yang lebih baik. (<a href="http://klinikpembelajaran.com/"><font color="#0000ff">http://klinikpembelajaran.com</font></a>) </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rasto.wordpress.com/54/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rasto.wordpress.com/54/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rasto.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rasto.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rasto.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rasto.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rasto.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rasto.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rasto.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rasto.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rasto.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rasto.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rasto.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rasto.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rasto.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rasto.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rasto.wordpress.com&amp;blog=1623932&amp;post=54&amp;subd=rasto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rasto.wordpress.com/2008/02/01/teaching-clinic-klinik-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f648c50d7913d255c69fb1209b56b8a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rasto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kompetensi Guru</title>
		<link>http://rasto.wordpress.com/2008/01/31/kompetensi-guru/</link>
		<comments>http://rasto.wordpress.com/2008/01/31/kompetensi-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 03:56:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rasto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rasto.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[ Pengertian Kompetensi Guru Majid (2005:6) menjelaskan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Diyakini Robotham (1996:27), kompetensi yang diperlukan oleh seseorang tersebut dapat diperoleh baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman. Syah (2000:229) mengemukakan pengertian dasar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rasto.wordpress.com&amp;blog=1623932&amp;post=40&amp;subd=rasto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Pengertian Kompetensi Guru</span></strong></p>
<p align="justify"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Majid (2005:6) menjelaskan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Diyakini Robotham (1996:27), kompetensi yang diperlukan oleh seseorang tersebut dapat diperoleh baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span id="more-40"></span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Syah (2000:229) mengemukakan pengertian dasar kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan. Usman (1994:1) mengemukakan kompentensi berarti suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun yang kuantitatif. McAhsan (1981:45), sebagaimana dikutip oleh Mulyasa (2003:38) mengemukakan bahwa kompetensi: <i>&#8220;&#8230;is a knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or her being to the extent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviors&#8221;</i>. Dalam hal ini, kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Sejalan dengan itu Finch &amp; Crunkilton (1979:222), sebagaimana dikutip oleh Mulyasa (2003:38) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Sofo (1999:123) mengemukakan <i>&#8220;A competency is composed of skill, knowledge, and attitude, but in particular the consistent applications of those skill, knowledge, and attitude to the standard of performance required in employment&#8221;. </i> Dengan kata lain kompetensi tidak hanya mengandung pengetahuan, keterampilan dan sikap, namun yang penting adalah penerapan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan tersebut dalam pekerjaan.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Robbins (2001:37) menyebut kompetensi sebagai <i>ability, </i>yaitu kapasitas seseorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Selanjutnya dikatakan bahwa kemampuan individu dibentuk oleh dua faktor, yaitu faktor kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan kegiatan mental sedangkan kemampuan fisik adalah kemampuan yang di perlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan, dan keterampilan.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Spencer &amp; Spencer (1993:9) mengatakan <i>&#8220;Competency is underlying characteristic of an individual that is causally related to criterion-reference effective and/or superior performance in a job or situation&#8221;</i>. Jadi kompetensi adalah karakteristik dasar seseorang yang berkaitan dengan kinerja berkriteria efektif dan atau unggul dalam suatu pekerjaan dan situasi tertentu. Selanjutnya Spencer &amp; Spencer menjelaskan, kompetensi dikatakan <i>underlying characteristic </i>karena karakteristik merupakan bagian yang mendalam dan melekat pada kepribadian seseorang dan dapat memprediksi berbagai situasi dan jenis pekerjaan. Dikatakan <i>causally related</i>, karena kompetensi menyebabkan atau memprediksi perilaku dan kinerja. Dikatakan <i>criterion-referenced</i>, karena kompetensi itu benar-benar memprediksi siapa-siapa saja yang kinerjanya baik atau buruk, berdasarkan kriteria atau standar tertentu.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Muhaimin (2004:151) menjelaskan kompetensi adalah seperangkat tindakan intelegen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksankan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Sifat intelegen harus  ditunjukan sebagai kemahiran, ketetapan, dan keberhasilan bertindak. Sifat tanggung jawab harus ditunjukkan sebagai kebenaran tindakan baik dipandang dari sudut ilmu pengetahuan, teknologi maupun etika. Depdiknas (2004:7) merumuskan definisi kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Menurut Syah (2000:230), &#8220;kompetensi&#8221; adalah kemampuan, kecakapan, keadaan berwenang, atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum. Selanjutnya masih menurut Syah, dikemukakan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Jadi kompetensi profesional guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Guru yang kompeten dan profesional adalah guru piawi dalam melaksanakan profesinya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Berdasarkan uraian di atas kompetensi guru dapat didefinisikan sebagai penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam menjalankan profesi sebagai guru.</span></p>
<h2 align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dimensi-dimensi Kompetensi Guru</span></h2>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Menurut Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen pasal 10 ayat (1) kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.</span></p>
<h3 align="justify"><i><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Kompetensi Pedagogik</span></i><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span></h3>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen  dikemukakan kompetensi pedagogik adalah &#8220;kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik&#8221;.  Depdiknas (2004:9) menyebut kompetensi ini dengan &#8220;kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi ini  dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian.</span><i><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Kompetensi Menyusun Rencana Pembelajaran</span></i><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Menurut Joni (1984:12), kemampuan merencanakan program belajar mengajar mencakup kemampuan: (1) merencanakan pengorganisasian bahan-bahan pengajaran, (2) merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar, (3) merencanakan pengelolaan kelas, (4) merencanakan penggunaan media dan sumber pengajaran; dan (5) merencanakan penilaian prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi penyusunan rencana pembelajaran meliputi (1) mampu mendeskripsikan tujuan, (2) mampu memilih materi, (3) mampu mengorganisir materi, (4) mampu menentukan metode/strategi pembelajaran, (5) mampu menentukan sumber belajar/media/alat peraga pembelajaran, (6)  mampu menyusun perangkat penilaian, (7) mampu menentukan teknik penilaian, dan (8) mampu mengalokasikan waktu.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Berdasarkan uraian di atas, merencanakan program belajar mengajar merupakan proyeksi guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung, yang mencakup: merumuskan tujuan, menguraikan deskripsi satuan bahasan, merancang kegiatan belajar mengajar, memilih berbagai media dan sumber belajar, dan merencanakan penilaian penguasaan tujuan.</span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal">
<div align="justify"><b><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">a. Kompetensi Melaksanakan Proses Belajar Mengajar</span></b><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span></div>
</li>
</ul>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Melaksanakan proses belajar mengajar merupakan tahap pelaksanaan program yang telah disusun. Dalam kegiatan ini kemampuan yang di tuntut adalah keaktifan guru menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat, apakah kegiatan belajar mengajar dicukupkan, apakah metodenya diubah, apakah kegiatan yang lalu perlu diulang, manakala siswa belum dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Pada tahap ini disamping pengetahuan teori belajar mengajar, pengetahuan tentang siswa, diperlukan pula kemahiran dan keterampilan  teknik belajar, misalnya: prinsip-prinsip mengajar, penggunaan alat bantu pengajaran, penggunaan metode mengajar, dan keterampilan menilai hasil belajar siswa.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Yutmini (1992:13)  mengemukakan, persyaratan kemampuan yang harus di miliki guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar meliputi kemampuan: (1) menggunakan metode belajar, media pelajaran, dan bahan latihan yang sesuai dengan tujuan pelajaran, (2) mendemonstrasikan penguasaan mata pelajaran dan perlengkapan pengajaran, (3) berkomunikasi dengan siswa, (4) mendemonstrasikan berbagai metode mengajar, dan (5) melaksanakan evaluasi proses belajar mengajar.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Hal serupa dikemukakan oleh Harahap (1982:32) yang menyatakan, kemampuan yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan program mengajar adalah mencakup kemampuan: (1) memotivasi siswa belajar sejak saat membuka sampai menutup pelajaran, (2) mengarahkan tujuan pengajaran, (3) menyajikan bahan pelajaran dengan metode yang relevan dengan tujuan pengajaran, (4) melakukan pemantapan belajar, (5) menggunakan alat-alat bantu pengajaran dengan baik dan benar, (6) melaksanakan layanan bimbingan penyuluhan, (7) memperbaiki program belajar mengajar, dan (8) melaksanakan hasil penilaian belajar.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar menyangkut pengelolaan pembelajaran, dalam menyampaikan materi pelajaran harus dilakukan secara terencana dan sistematis, sehingga tujuan pengajaran dapat dikuasai oleh siswa secara efektif dan efisien. Kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar terlihat dalam mengidentifikasi karakteristik dan kemampuan awal siswa, kemudian mendiagnosis, menilai dan merespon setiap perubahan perilaku siswa.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi melaksanakan proses belajar mengajar meliputi (1) membuka pelajaran, (2) menyajikan materi, (3) menggunakan media dan metode, (4) menggunakan alat peraga, (5) menggunakan bahasa yang komunikatif, (6) memotivasi siswa, (7) mengorganisasi kegiatan, (8) berinteraksi dengan siswa secara komunikatif, (9) menyimpulkan pelajaran, (10) memberikan umpan balik, (11) melaksanakan penilaian, dan (12) menggunakan waktu.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa melaksanakan proses belajar mengajar merupakan sesuatu kegiatan dimana berlangsung hubungan antara manusia, dengan tujuan membantu perkembangan dan menolong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pada dasarnya melaksanakan proses belajar mengajar adalah menciptakan lingkungan dan suasana yang dapat menimbulkan perubahan struktur kognitif para siswa.</span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal">
<div align="justify"><b><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">b. Kompetensi Melaksanakan Penilaian Proses Belajar Mengajar</span></b><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span></div>
</li>
</ul>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Menurut Sutisna (1993:212), penilaian proses belajar mengajar dilaksanakan untuk mengetahui keberhasilan perencanaan kegiatan belajar mengajar yang telah disusun dan dilaksanakan. Penilaian diartikan sebagai proses yang menentukan betapa baik organisasi program atau kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai maksud-maksud yang telah ditetapkan.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Commite dalam Wirawan (2002:22) menjelaskan, evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap upaya manusia, evaluasi yang baik akan menyebarkan pemahaman dan perbaikan pendidikan, sedangkan evaluasi yang salah akan merugikan pendidikan.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Tujuan utama melaksanakan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa, sehingga tindak lanjut hasil belajar akan dapat diupayakan dan dilaksanakan. Dengan demikian, melaksanakan penilaian proses belajar mengajar merupakan bagian tugas guru yang harus dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran, sehingga dapat diupayakan tindak lanjut hasil belajar siswa.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Depdiknas (2004:9) mengemukakan  kompetensi penilaian belajar peserta didik, meliputi (1) mampu memilih soal berdasarkan tingkat kesukaran,<br />
(2) mampu memilih soal berdasarkan tingkat pembeda, (3) mampu memperbaiki soal yang tidak valid, (4) mampu memeriksa jawab, (5) mampu mengklasifikasi hasil-hasil penilaian, (6) mampu mengolah dan menganalisis hasil penilaian, (7) mampu membuat interpretasi kecenderungan hasil penilaian, (8)  mampu menentukan korelasi soal berdasarkan hasil penilaian, (9) mampu mengidentifikasi tingkat variasi hasil penilaian,  (10) mampu menyimpulkan  dari hasil penilaian secara jelas dan logis, (11) mampu menyusun program tindak lanjut hasil penilaian, (12) mengklasifikasi kemampuan siswa, (13) mampu mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian, (14) mampu melaksanakan tindak lanjut, (15) mampu mengevaluasi hasil tindak lanjut,  dan (16) mampu menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut hasil penilaian.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Berdasarkan uraian di atas kompetensi pedagogik tercermin dari indikator (1) kemampuan merencanakan program belajar mengajar, (2) kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan (3) kemampuan melakukan penilaian.</span></p>
<h3 align="justify"><i><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Kompetensi Pribadi </span></i><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span></h3>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia.  Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut &#8220;digugu&#8221; (ditaati nasehat/ucapan/perintahnya) dan &#8220;ditiru&#8221; (di contoh sikap dan perilakunya).</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik. Dalam kaitan ini, Zakiah Darajat dalam Syah (2000:225-226)  menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan anak didiknya terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah). Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan guru dalam menggeluti profesinya adalah meliputi fleksibilitas kognitif dan keterbukaan psikologis. Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranah cipta merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan adanya keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Selain itu, ia memiliki resistensi atau daya tahan terhadap ketertutupan ranah cipta yang prematur dalam pengamatan dan pengenalan.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dalam Undang-undang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi kepribadian adalah &#8220;kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik&#8221;. Surya (2003:138) menyebut kompetensi kepribadian ini sebagai kompetensi personal, yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri. Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat <i>Asian Institut for Teacher Education</i>, mengemukakan kompetensi pribadi meliputi (1) pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama, (2) pengetahuan tentang budaya dan tradisi, (3) pengetahuan tentang inti demokrasi, (4) pengetahuan tentang estetika, (5) memiliki apresiasi dan kesadaran sosial, (6) memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan, (7) setia terhadap harkat dan martabat manusia. Sedangkan kompetensi guru secara lebih khusus lagi adalah bersikap empati, terbuka, berwibawa, bertanggung jawab dan mampu menilai diri pribadi. Johnson sebagaimana dikutip Anwar (2004:63) mengemukakan kemampuan personal guru, mencakup (1) penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya, (2) pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, (3) kepribadian, nilai, sikap hidup ditampilkan dalam upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi personal mengharuskan guru memiliki kepribadian yang mantap sehingga menjadi sumber inspirasi bagi subyek didik, dan patut diteladani oleh siswa.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Berdasarkan uraian di atas, kompetensi kepribadian guru tercermin dari indikator (1) sikap, dan (2) keteladanan.</span></p>
<h3 align="justify"><i><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Kompetensi Profesional </span></i><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span></h3>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi profesional adalah &#8220;kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam&#8221;. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi profesional adalah berbagai kemampuan yang diperlukan agar dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional. Kompetensi profesional meliputi kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan tugasnya dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat <i>Asian Institut for Teacher Education</i>, mengemukakan kompetensi profesional guru mencakup kemampuan dalam hal (1) mengerti dan dapat menerapkan landasan pendidikan baik filosofis, psikologis, dan sebagainya, (2) mengerti dan menerapkan teori belajar sesuai dengan tingkat perkembangan perilaku peserta didik, (3) mampu menangani mata pelajaran atau bidang studi yang ditugaskan kepadanya, (4) mengerti dan dapat menerapkan metode mengajar yang sesuai, (5) mampu menggunakan berbagai alat pelajaran dan media serta fasilitas belajar lain, (6) mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pengajaran, (7) mampu melaksanakan evaluasi belajar dan (8) mampu menumbuhkan motivasi peserta didik. Johnson sebagaimana dikutip Anwar (2004:63) mengemukakan kemampuan profesional mencakup (1) penguasaan pelajaran yang terkini  atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan bahan yang diajarkan tersebut, (2) penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, (3) penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi profesional mengharuskan guru memiliki pengetahuan yang luas dan dalam tentang <i>subject matter</i> (bidang studi)  yang akan diajarkan serta penguasaan metodologi yaitu menguasai konsep teoretik, maupun memilih metode yang tepat dan mampu menggunakannya dalam proses belajar mengajar.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi profesional meliputi (1) pengembangan profesi, pemahaman wawasan, dan penguasaan bahan kajian akademik.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Pengembangan profesi meliputi (1) mengikuti informasi perkembangan iptek yang mendukung profesi melalui berbagai kegiatan ilmiah, (2) mengalihbahasakan buku pelajaran/karya ilmiah, (3) mengembangkan berbagai model pembelajaran, (4) menulis makalah, (5) menulis/menyusun diktat pelajaran, (6) menulis buku pelajaran, (7) menulis modul, (8) menulis karya ilmiah, (9) melakukan penelitian ilmiah (<i>action research</i>), (10) menemukan teknologi tepat guna, (11) membuat alat peraga/media, (12) menciptakan karya seni, (13) mengikuti pelatihan terakreditasi, (14) mengikuti pendidikan kualifikasi, dan (15) mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Pemahaman wawasan meliputi (1) memahami visi dan misi, (2) memahami hubungan pendidikan dengan pengajaran, (3) memahami konsep pendidikan dasar dan menengah, (4) memahami fungsi sekolah, (5) mengidentifikasi permasalahan umum pendidikan dalam hal proses dan hasil belajar, (6) membangun sistem yang menunjukkan keterkaitan pendidikan dan luar sekolah.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Penguasaan bahan kajian akademik meliputi (1) memahami struktur pengetahuan, (2) menguasai substansi materi, (3) menguasai substansi kekuasaan sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan siswa.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Berdasarkan uraian di atas, kompetensi profesional guru tercermin dari indikator (1) kemampuan penguasaan materi pelajaran, (2) kemampuan penelitian dan penyusunan karya ilmiah, (3) kemampuan pengembangan profesi, dan (4) pemahaman terhadap wawasan dan landasan pendidikan</span></p>
<h3 align="justify"><i><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Kompetensi Sosial </span></i><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span></h3>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa siswanya dengan berhasil mencapai tujuan pengajaran. Mengajar di depan kelas merupakan perwujudan interaksi dalam proses komunikasi. Menurut Undang-undang Guru dan Dosen kompetensi sosial adalah &#8220;kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar&#8221;. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi sosial adalah kemampuan yang diperlukan oleh seseorang agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan dalam interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat <i>Asian Institut for Teacher Education</i>, menjelaskan kompetensi sosial guru adalah salah satu daya atau kemampuan guru untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang baik serta kemampuan untuk mendidik, membimbing masyarakat dalam menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Untuk dapat melaksanakan peran sosial kemasyarakatan, guru harus memiliki kompetensi (1) aspek normatif kependidikan, yaitu untuk menjadi guru yang baik tidak cukup digantungkan kepada bakat, kecerdasan, dan kecakapan saja, tetapi juga harus beritikad baik sehingga hal ini bertautan dengan norma yang dijadikan landasan dalam melaksanakan tugasnya, (2) pertimbangan sebelum memilih jabatan guru, dan (3) mempunyai program yang menjurus untuk meningkatkan kemajuan masyarakat dan kemajuan pendidikan. Johnson sebagaimana dikutip Anwar (2004:63) mengemukakan kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi sosial mengharuskan guru memiliki kemampuan komunikasi sosial baik dengan peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, bahkan dengan anggota masyarakat.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Berdasarkan uraian di atas, kompetensi sosial guru tercermin melalui indikator (1) interaksi guru dengan siswa, (2) interaksi guru dengan kepala sekolah, (3) interaksi guru dengan rekan kerja, (4) interaksi guru dengan orang tua siswa, dan (5) interaksi guru dengan masyarakat.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rasto.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rasto.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rasto.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rasto.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rasto.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rasto.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rasto.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rasto.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rasto.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rasto.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rasto.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rasto.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rasto.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rasto.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rasto.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rasto.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rasto.wordpress.com&amp;blog=1623932&amp;post=40&amp;subd=rasto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rasto.wordpress.com/2008/01/31/kompetensi-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f648c50d7913d255c69fb1209b56b8a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rasto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengangkat Citra dan Martabat Guru</title>
		<link>http://rasto.wordpress.com/2008/01/31/mengangkat-citra-dan-martabat-guru/</link>
		<comments>http://rasto.wordpress.com/2008/01/31/mengangkat-citra-dan-martabat-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 03:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rasto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rasto.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Agaknya semua orang sepakat bahwa the children of today are the leaders of tomorrow, dan salah satu cara terbaik untuk mewujudkannya adalah melalui pendidikan. Berkaitan dengan hal ini, guru merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan, sebab inti kegiatan pendidikan di sekolah adalah belajar mengajar yang memerlukan peran guru di dalamnya. Sidi (2000) dalam Mustafa (2005) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rasto.wordpress.com&amp;blog=1623932&amp;post=39&amp;subd=rasto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Agaknya semua orang sepakat bahwa <i>the children of today are the leaders of tomorrow</i>, dan salah satu cara terbaik untuk mewujudkannya adalah melalui pendidikan. Berkaitan dengan hal ini, guru merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan, sebab inti kegiatan pendidikan di sekolah adalah belajar mengajar yang memerlukan peran guru di dalamnya. Sidi (2000) dalam Mustafa (2005) mengemukakan berdasarkan hasil studi di negara-negara berkembang, guru memberikan sumbangan dalam prestasi belajar siswa (36%), selanjutnya manajemen (23%), waktu belajar (22%), dan sarana fisik (19%). </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span id="more-39"></span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Memang harus diakui maraknya arus informasi dewasa ini, guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi tetapi merupakan salah satu sumber informasi. Meskipun demikian perannya dalam proses pendidikan masih tetap diperlukan, khususnya yang berkenaan dengan sentuhan-sentuhan psikologis dan edukatif terhadap anak didik. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Slogan pahlawan tanpa tanda jasa senantiasa melekat pada profesi guru. Hal ini didasarkan pada pengabdiannya yang begitu tinggi dan tulus dalam dunia pendidikan. Tidak hanya itu, sikap kearifan, kedisiplinan, kejujuran, ketulusan, kesopanan serta sebagai sosok panutan menjadikan profesi satu ini berbeda dengan yang lain. Lantaran tanggung jawab dari profesi guru tidak berhenti pada selesai ia mengajar, melainkan keberhasilan siswa dalam menangkap, memahami, mempraktekkan serta mengamalkan ilmu yang diterima dalam kehidupan sehari-hari baik langsung maupun tak langsung. Hal ini membuat citra seorang guru di mata masyarakat selalu berada di tempat yang lebih baik dan mulia. Djamin (1999) mengemukakan citra guru mempunyai arti sebagai suatu penilaian yang baik dan terhormat terhadap keseluruhan penampilan yang merupakan sosok pengembang profesi ideal dalam lingkup fungsi, peran dan kinerja. Citra guru ini tercermin melalui keunggulan mengajar, memiliki hubungan yang harmonis dengan peserta didik, serta memiliki hubungan yang harmonis pula terhadap sesama teman seprofesi dan pihak lain baik dalam sikap maupun kemampuan profesional. Dari sudut pandang peserta didik, citra guru ideal adalah seseorang yang senantiasa memberi motivasi belajar yang mempunyai sifat-sifat keteladanan, penuh kasih sayang, serta mampu mengajar di dalam suasana yang menyenangkan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dewasa ini citra guru semakin hangat diperbincangkan. Masyarakat sering mengeluh dan menuding guru tidak mampu mengajar manakala putra-putrinya memperoleh nilai rendah, rangkingnya merosot, atau NEM-nya anjlok. Akhirnya sebagian orang tua mengikutsertakan putra-putrinya untuk kursus, privat atau bimbingan belajar. Pihak dunia kerja ikut memprotes guru karena kualitas lulusan yang diterimanya tidak sesuai keinginan dunia kerja. Belum lagi mengenai kenakalan dan dekadensi moral para pelajar yang belakangan semakin marak saja, hal ini sering dipersepsikan bahwa guru gagal dalam mendidik anak bangsa. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Sudjana dalam Mustafa (2005) menjelaskan rendahnya pengakuan masyarakat terhadap profesi guru yang mengakibatkan rendahnya citra guru disebabkan oleh faktor berikut: (1) adanya pandangan sebagian masyarakat, bahwa siapapun dapat menjadi guru asalkan ia berpengetahuan; (2) kekurangan guru di daerah terpencil, memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak mempunyai keahlian untuk menjadi guru; (3) banyak guru yang belum menghargai profesinya, apalagi berusaha mengembangkan profesinya itu. Perasaan rendah diri karena menjadi guru, penyalahgunaan profesi untuk kepuasan dan kepentingan pribadinya. Syah (2000) menyorot rendahnya tingkat kompetensi profesionalisme guru, penguasaan guru terhadap materi dan metode pengajaran yang masih berada di bawah standar, sebagai penyebab rendahnya mutu guru yang bermuara pada rendahnya citra guru. Secara rinci dari aspek guru rendahnya mutu guru menurut Sudarminta dalam <span>Mujiran</span> (2005) antara lain tampak dari gejala-gejala berikut: (1) lemahnya penguasaan bahan yang diajarkan; (2) ketidaksesuaian antara bidang studi yang dipelajari guru dan yang dalam kenyataan lapangan yang diajarkan; (3) kurang efektifnya cara pengajaran; (4) kurangnya wibawa guru di hadapan murid; (4) lemahnya motivasi dan dedikasi untuk menjadi pendidik yang sungguh-sungguh; semakin banyak yang kebetulan menjadi guru dan tidak betul-betul menjadi guru; (6) kurangnya kematangan emosional, kemandirian berpikir, dan keteguhan sikap dalam cukup banyak guru sehingga dari kepribadian mereka sebenarnya tidak siap sebagai pendidik; kebanyakan guru dalam hubungan dengan murid masih hanya berfungsi sebagai pengajar dan belum sebagai pendidik; (7) relatif rendahnya tingkat intelektual para mahasiswa calon guru yang masuk LPTK (Lembaga Pengadaan Tenaga Kependidikan) dibandingkan dengan yang masuk Universitas.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Uraian di atas memberikan penekanan bahwa profesionalisme merupakan salah satu garansi bagi peningkatan citra guru. Hal ini sejalan dengan pesan penting yang muncul dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Pengakuan guru dan dosen sebagai profesi diharapkan dapat memacu tumbuhnya kesadaran terhadap mutu dan gilirannya akan meningkatkan citra guru di tengah masyarakat. Sebagaimana ditegaskan dalam pasal 7 (1) bahwa profesi guru dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Sanusi (1991) menunjuk ciri-ciri profesi, mencakup fungsi dan signifikansi sosial dari profesi tersebut, keterampilan para anggota profesi yang diperoleh melalui pendidikan dan atau latihan yang akuntabel, adanya disiplin ilmu yang kokoh, kode etik, dan adanya imbalan finansial dan material yang sepadan. Kemudian, secara teknis penguatan profesionalisme itu dikaitkan dengan pentingnya perhatian terhadap kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa salah satu upaya untuk meningkatkan citra guru adalah dengan menguasai kompetensi guru dengan baik. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rasto.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rasto.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rasto.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rasto.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rasto.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rasto.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rasto.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rasto.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rasto.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rasto.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rasto.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rasto.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rasto.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rasto.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rasto.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rasto.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rasto.wordpress.com&amp;blog=1623932&amp;post=39&amp;subd=rasto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rasto.wordpress.com/2008/01/31/mengangkat-citra-dan-martabat-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f648c50d7913d255c69fb1209b56b8a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rasto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kepemimpinan Visioner</title>
		<link>http://rasto.wordpress.com/2007/09/01/kepemimpinan-visioner/</link>
		<comments>http://rasto.wordpress.com/2007/09/01/kepemimpinan-visioner/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Sep 2007 05:31:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rasto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rasto.wordpress.com/2007/09/01/kepemimpinan-visioner/</guid>
		<description><![CDATA[Pemimpin yang memiliki kegesitan, kecepatan serta mampu beradaptasi dalam membawa jalannya organisasi memiliki peran yang penting dalam menghadapi kondisi organisasi yang senantiasa mengalami perubahan. Sebab, fleksibilitas organisasi pada dasarnya merupakan karya orang-orang yang mampu bertindak proaktif, kreatif, inovatif dan non konvensional. Pribadi-pribadi seperti inilah yang dibutuhkan sebagai pemimpin organisasi saat ini. Seorang pemimpin adalah inspirator [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rasto.wordpress.com&amp;blog=1623932&amp;post=10&amp;subd=rasto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New Roman"><span></span></font><font face="Times New Roman"><span></span></font><font face="Times New Roman"><span></p>
<p align="justify" style="line-height:15.6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Pemimpin yang memiliki kegesitan, kecepatan serta mampu beradaptasi dalam membawa jalannya organisasi memiliki peran yang penting dalam menghadapi kondisi organisasi yang senantiasa mengalami perubahan. Sebab, fleksibilitas organisasi pada dasarnya merupakan karya orang-orang yang mampu bertindak proaktif, kreatif, inovatif dan non konvensional. Pribadi-pribadi seperti inilah yang dibutuhkan sebagai pemimpin organisasi saat ini. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, yaitu memiliki visi yang jelas ke arah mana organisasi akan di bawa.   <a href="http://rasto.files.wordpress.com/2008/01/kepemimpinan-visoner.doc" title="Kepemimpinan Visioner">Download</a></span></p>
<p></span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rasto.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rasto.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rasto.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rasto.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rasto.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rasto.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rasto.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rasto.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rasto.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rasto.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rasto.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rasto.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rasto.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rasto.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rasto.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rasto.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rasto.wordpress.com&amp;blog=1623932&amp;post=10&amp;subd=rasto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rasto.wordpress.com/2007/09/01/kepemimpinan-visioner/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f648c50d7913d255c69fb1209b56b8a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rasto</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
